Pewarna Alamiah Hantar Syariah Tole ke Luar Negeri

Syariah Tole - Tokoh Tenun Ikat Alor

Syariah Tole - Tokoh Tenun Ikat Alor

Dokumentasi Dekranasda NTT

Tim Media Dekranasda NTT - Alor | “Kelompok kami selalu menggunakan pewarna alamiah, tidak akan pernah menggunakan pewarna toko (pewarna sintetis-red).” Demikain ungkap Syariah Tole (44 tahun) ketika dikunjungi oleh Tim Media Dekranasda NTT pada hari Jumat (6/5/2016) yang lalu. Mama Syariah, begitu beliau disapa, adalah seorang pakar Tenun Ikat Alor yang telah meraih berbagai penghargaan atas dedikasinya melestarikan tenun ikat berbahan pewarna alami.     

Dari kediamannya di dusun Hula, Desa Alor Besar, Kecamatan Alor Barat Laut, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, mama Syariah dan kelompok Usaha Tenun ikat binaannya mampu menghasilkan 20 lembar kain tenun ikat setiap bulannya.  “Sejak mendirikan Kelompok Usaha Tenun Gunung Mako di tahun 2002 kami selalu menggunakan bahan pewarna alamiah untuk kain tenun yang kami hasilkan” lanjut ibu enam orang anak ini.

Ditengah kemajuan teknologi industri tekstil saat ini, upaya Syariah Tole dan kelompok binaannya untuk tetap mengunakan bahan pewarna alamiah patut diacungi jempol. “Jaman sekarang tidak banyak perajin yang menggunakan pewarna alamiah. Siapa yang mau kerja susah begini ..??” imbuhnya.

Syariah menjelaskan, ia  menolak menggunakan bahan pewarna sintetis karena berbagai efek negatif yang ditimbulkan bahan kimia tersebut.  Selain tidak ramah lingkungan, pewarna kimia juga berdampak buruk bagi kesehatan para perajin tenun.  “Pakai pewarna alamiah lebih aman.” Lanjutnya “ Biar waktu pengerjaan jadi lebih lama, tetapi tidak ada efek buruk bagi lingkungan dan bagi kesehatan para perajin”.

 

Proses Pewarnaan benang dengan Pewarna Alamiah

Saat ini Syariah Tole dan Kelompok Tenun binaannya telah berinovasi dan berhasil mengembangkan 9 bahan pewarna tradisional warisan leluhur menjadi 202 bahan pewarna. Bahan-bahan pewarna organik yang dipakai antara lain; berbagai jenis dedaunan, kulit kayu dan akar tumbuh-tumbuhan,  serta bahan pewarna dari biota laut seperti Cumi-cumi, Rumput Laut, Sotong dan Teripang.

Idealisme, dedikasi dan kerja keras mama Syariah akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Dengan dukungan penuh dari  Dekranasda NTT, pada tahun 2013 Syariah Tole dianugerahi Piagam Penghargaan SwarnaFest dari Kementerian Perindustrian RI. Penghargaan ini adalah apresiasi pemerintah atas dedikasinya dalam melestarikan penggunaan bahan pewarna alamiah.  “Saya tidak menyangka akan mendapat penghargaaan ini dari pemerintah” Kenang Syariah.

Semenjak itu, banyak lagi penghargaan yang diterimanya. Beberapa Stasiun Televisi Nasional datang meliput kegiatan mama Syariah dan kelompoknya. Banyak undangan untuk mengikuti Workshop dan Expo, dari Dalam Negeri maupun dari Luar Negeri yang diterima Syariah.  Ia pernah diundang ke Tokyo Jepang sebagai narasumber untuk workshop dan demo penggunaan pewarna alamiah dalam proses pencelupan kain tenun.

“Di akhir bulan Mei 2016 ini saya akan berangkat ke Belanda”. ujar mama Syariah sumringah. “Saya diundang untuk mengikuti Workshop Tenun ikat internasional yang akan digelar disana.”

Galeri kain tenun ikat milik Syariah yang dibangun dengan dukungan dari Dekranasda NTT kini selalu ramai dikunjungi, seperti juga di hari ini. Banyak pengunjung yang datang rata-rata berasal dari luar pulau Alor.  Beberapa tamu dari Jepang terlihat membeli puluhan kain tenun ikat yang di jual dengan harga antara 300 sampai 600 ribu rupiah.   

 

Sariat Tole saat diliput oleh sebuah Stasiun TV Nasional

Baca 4878 times
Tim Media Dekranasda NTT

Sekretariat DEKRANASDA NTT
Gedung Kerajinan Rakyat - Jalan Moh. Hatta
Oetete - Kupang

Hubungi Kami

Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur

Jalan Mohammad Hatta - Oetete - Kupang

(0380) 8447194

Hubungi kami

Berlangganan Berita

Daftarkan Email Anda untuk menerima update berita

Data Kunjungan

3.png9.png6.png3.png1.png9.png
Hari ini 11
Kemarin92
Minggu ini 11
Bulan ini 2162
Total396319

  • IP Anda 3.236.98.69
  • Operating System: Unknown