Musa Widyatmodjo Hadirkan Koleksi Kain Tenun NTT di JFFF

Musa Widyatmodjo bersama ketua Dekranasda NTT Lusia Adinda Leburaya

Musa Widyatmodjo bersama ketua Dekranasda NTT Lusia Adinda Leburaya

Perancang mode senior Musa Widyatmodjo mengangkat kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) pada peragaan tunggalnya di Jakarta Fashion & Food Festival, Rabu (23/5) malam.

Dengan tema “The Flobamora Indone(she)aku”, Musa ingin menghadirkan koleksi busana siap pakai hasil negeri sendiri. “M by Musa tahun lalu mengangkat Ende dan kali ini NTT secara keseluruhan yang mempunyai 21 kabupaten yang setiap kabupaten mempunyai motif yang berbeda,” kata Musa yang ditemui sebelum peragaan busana dimulai.

Musa mengolah kain tenun dari Pulau Flores, P. Sumba, P. Timor , dan P. Alor (Flobamora) untuk busana siap pakai label M by Musa. Pada peragaan tunggal tersebut dia memperagakan sedikitnya 99 koleksi.

Dia melanjutkan eskplorasi kain tenun yang tersebar di seluruh NTT tersebut dipadukan dengan detail dari beberapa daerah di Indonesia, seperti bordir bunga anggrek dari Tasikmalaya, motif selendang sulam suji dari Koto Gadang, Sumatera Barat, dan batu kaca dari Jombang.

Pengerjaan tenun dari NTT, kata Musa, lebih rumit dibandingkan dengan tenun dari daerah lainnya. Kainnya ditenun dengan menggunakan alat tenun gedogan yang dipangku dan salah satu ujungnya diikatkan di pinggang belakang.

Sementara itu Lusia Leburaya, Ketua Dekranasda NTT, yang juga mendukung peragaan busana tersebut mengatakan di NTT terdapat 20 kabupaten dan 1 kota dengan 5.000 penenun. Setiap kabupaten mempunyai motif yang berbeda. Misalnya Kabupaten Alor terdapat 81 motif. “Tenun NTT sangat sulit pengerjaannya. Ada satu kain bisa dikerjakan satu tahun,” kata Lusia.

Tapi kalau dikerjakan dengan serius, kata Lusia, pengerjaannya bisa cepat, karena sampai sekarang pekerjaan tenun itu sebagai pekerjaan sambilan dan bukan pekerjaan utama. Biasanya, pekerjaan utama para penenun itu adalah bertani.

Dari setiap daerah mempunyai motif yang berbeda-beda. Tenun dari Sumba dan Alor, katanya, kebanyakan motif binatang, sedangkan dari Sika mempunyai motif tumbuh-tumbuhan. Setiap motif pun memiliki makna tersendiri. “Saya berharap tenun dari Nusa Tenggara Timur semakin terkenal,” kata Lusia yang melanjutkan pendidikan strata dua dengan mengambil tesis tentang masalah penenun di NTT.

Beberapa perancang mode yang sering mengeksplorasi kain tenun NTT menjadi busana yang modern antara lain Oscar Lawalata, Stephanus Hamy, Ida Rohyani, dan Samuel Wattimena.

 

Sumber : kabar24.com

Baca 3751 times
Tim Media Dekranasda NTT

Sekretariat DEKRANASDA NTT
Gedung Kerajinan Rakyat - Jalan Moh. Hatta
Oetete - Kupang

Tulis Komentar

Semua yang bertanda (*) wajib diisi. Kode HTML tidak diperbolehkan.

Hubungi Kami

Dewan Kerajinan Nasional Provinsi Nusa Tenggara Timur

Jalan Mohammad Hatta - Oetete - Kupang

Phone Number Here

Hubungi kami

Berlangganan Berita

Daftarkan Email Anda untuk menerima update berita

Data Kunjungan

3.png0.png4.png8.png1.png1.png
Hari ini 124
Kemarin160
Minggu ini 442
Bulan ini 2983
Total304811

  • IP Anda 18.205.176.100
  • Operating System: Unknown